Lompatan Sang Fisikawan Muda

Setelah lelah menggali ilmu di instansi-instansi pendidikan di Tanah Pasundan, tibalah saatnya rombongan Mahasiswa Pend. Fisika untuk merefresh kepenatan sejenak sebelum pulang ke Kota Pelajar. Tujuan wisata kami pertama adalah mengunjungi Obwis Gunung Tangkuban Perahu. Tak ada yang menarik di sana hanya ada kawah saja, dan di Jogjapun ada di unung Merapi atau di daerah dataran Tinggi Dieng. Namun sebagai bukti jika kami pernah ke sana maka Continue reading “Lompatan Sang Fisikawan Muda”

Kunjungan Ilmiah 2012 “Tour De Paris Van Java”

26 sepetember 2012 program studi Pendidikan Fisika Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta berkunjung ke beberapa tempat yang berbasis fisika salah satunya ke Universitas pendidikan Indonesia ( UPI ) bandung tepatnya di prodi pendidikan fisika upi ( FPMIPA ), Boscha dan LAPAN yang bertujuan untuk mendalami ilmu sains utamanya fisika serta untuk menjalin hubungan silaturahmi.
Di kampus bumi Siliwangi tersebut prodi pendidikan Continue reading “Kunjungan Ilmiah 2012 “Tour De Paris Van Java””

Persyaratan Ujian Pendadaran

Persyaratan mengikuti ujian pendadaran setelah naskah skripsinya dinyatakan layak oleh dosen pembimbing adalah sebagai berikut.
1.    Mengisi formulir pendaftaran *)
2.    Mengisi surat persetujuan pembimbing *)
3.    Berkas Skripsi : rangkap 3 tanpa dijilid
4.    FC kartu bimbingan yang telah ACC dosen penguji : rangkap 1
5.    FC surat keterangan lunas SPP : rangkap 1 Continue reading “Persyaratan Ujian Pendadaran”

Prosiding Semnas Quantum 2012 Rampung

Alhamdulillah kami haturkan ke Hadirat Illahi Rabbi, setelah beberapa waktu berkutat melakukan setting-layout prosiding dengan segala keluh kesahnya akhirnya Prosiding Semnas Quantum 2012 tercetak juga. Kami juga telah mengirimkan prosiding yang telah tercetak ke beberapa peserta yang memesannya via pos.

Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk mengupayakan tidak ada kesalahan dalam prosiding ini. Continue reading “Prosiding Semnas Quantum 2012 Rampung”

Keren, Baterei Lumpur Lapindo Temuan UNNES 10 Persen Lebih Kuat

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Baterai “Lusi Cell” yang berbahan material lumpur Sidoarjo karya mahasiswa Universitas Negeri Semarang diklaim 10 persen lebih tahan lama dibandingkan baterai-baterai sejenis di pasaran. “Kami sudah lakukan pengujian dengan membandingkan ketahanan baterai ‘Lusi Cell’ yang berkapasitas 1,5 volt dan lima merek baterai sejenis,” kata Aji Christian Bani Adam (24) mahasiswa Unnes, di Semarang, Jumat (3/8).

Baterai sel kering (dry cell battery) itu dikembangkan Aji (Fakultas MIPA Unnes)bersama tiga kawannya, yakni Umarudin (FMIPA), Oki Prisnawan (Fakultas Ekonomi), dan Yoga Pratama (Fakultas Ilmu Keolahragaan). Dari hasil pengujian dengan menggunakannya untuk senter yang dinyalakan terus-menerus, baterai “Lusi Cell” yang merupakan singkatan “Lumpur Sidoarjo” mampu bertahan memberi listrik senter selama lima jam.

“Selama ini, kami membuat baterai itu melalui cara konvensional yang membutuhkan waktu sekitar 10–15 menit setiap baterai. Kalau dibuat dengan mesin, tentu produktivitasnya akan semakin meningkat,” katanya.

Aji menceritakan ide awal memanfaatkan material lumpur panas Sidoarjo atau dikenal juga lumpur Lapindo itu karena keprihatinan mereka atas meluapnya lumpur panas yang menimbun rumah-rumah warga Porong, Sidoarjo. “Sampai saat ini, material lumpur panas masih keluar. Kami sempat berkonsultasi dengan dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tentang kandungan logam berat yang besar dari material lumpur,” katanya.

Setelah diteliti, kata dia, ternyata material lumpur Sidoarjo memiliki kadar garam yang tinggi sekitar 40 persen, serta kandungan logam, seperti mangan yang selama ini banyak digunakan untuk pembuatan baterai.

Dari penghitungan produksi, mahasiswa Jurusan Kimia FMIPA Unnes itu mengatakan pembuatan baterai berbahan lumpur Sidoarjo ternyata jatuhnya lebih murah karena bahan materialnya bisa didapatkan secara mudah.

“Setengah kilogram lumpur Sidoarjo bisa menghasilkan 20 baterai kering. Sementara ini, kami ‘bermain’ baterai di kelas ‘middle’ berkapasitas 1,5 volt yang jenis serupa banyak ditemukan dengan berbagai merek,” katanya.

Kendala yang dihadapi hanya masalah jarak, kata dia, karena itu mereka berkeinginan menggandeng investor untuk memproduksi baterai tersebut secara massal dengan mendirikan perusahaan kecil di Sidoarjo.

“Rencananya, kami ingin mendirikan CV di Sidoarjo dengan merekrut pekerja dari para korban lumpur Sidoarjo. Kalau sudah menggunakan mesin, kami perkirakan sanggup memproduksi sampai 1.000 baterai/hari,” kata Aji.

Menanggapi inovasi baterai “Lusi Cell” karya mahasiswanya yang menyabet juara dua ajang “Technopreneurship 2012″ yang diprakarsai Kementerian Riset dan Teknologi, Pembantu Rektor III Unnes Masruhi sangat mengapresiasi.

“Kami berharap ini bisa menular ke adik-adik kelas mereka. Penemuan ini akan dipamerkan dalam peringatan Hari Teknologi Nasional pada tanggal 8–11 Agustus 2012 di Bandung. Mudah-mudahan ada investor tertarik,” katanya.

Sumber: republika

Puisi Tan Malaka yang di terjemahkn oleh Ki Hajar Dewantara

Internasionale

Bangunlah kaum jang terhina,
Bangunlah kaum jang lapar.
Kehendak jang mulja dalam dunia
Senantiasa tambah besar.
Lenjapkan adat dan faham tua
Kita Rakjat sedar-sedar.
Dunia sudah berganti rupa
Untuk kemenangan kita.

Perdjuangan penghabisan,
Kumpullah berlawan.
Dan Internasionale
Pastilah didunia.

Penerjemah: Ki Hadjar Dewantara

PROYEK PENDIDIKAN NASIONAL

Pada bulan april tepatnya tanggal 10 – 16 april 2012 Dua siswi dari Indonesia, Christa Lorenzia Soesanto dan Natasha Sutedja, berhasil mencetak prestasi membanggakan pada European Girls Mathematical Olympiad (EGMO) 2012 di Murray Edwards College, Inggris. Christa (15 tahun) meraih Medali Perak dengan total skor 30, sedangkan Natasha (15 tahun) menyabet Medali Perunggu dengan skor 15. Kedua belia berbakat ini ikut berkompetisi ke EGMO di bawah pimpinan Anton Wardaja.

Kesusksesan kedua siswa tersebut tak pelak menjadi inspirasi siswa lainnya begitu juga para guru untuk melahirkan obsesi untuk menjadikan sekolah masing- masing unggul di Indonesia. Seluruh lampu tersorot melihat kesuksesan mereka. Persoalan di sekeliling kita ( pendidikan kita  yang mestinya jauh tersorot, menjadi gelap gulita. Perhatian masyarakat Indonesia tersedot pada kesuksesan kedua siswa .tersebut mengapa tidak? Dengan bangga menyabet gelar juara di olimpiade berkelas  Internasional itu merupakansuatu capaian  prestasi yang luar biasa. Perhatian Publik  tersorot pada pencapain  mereka, tapi tidak pada proses. Masyarakat pun luput melihat efek negative yang terbangun dari proses panjang menuju tangga juara. Mereka hanya merayakan hasil dengan gegap gempita.

Sekilas memang tidak ada yang salah pada kemenangan  anak-anak  bangsa kita  di ajang yang bergensi di olimpiade Internasional . namun menilik lebih dalam, capaian tersebut  menjadi pelarian dari banyak persoalan pendidikan nasional kita. Setitik kesuksesan di tengah lautan masalah pendidikan bangsa kita yang bisa membahagiakan para penyelenggara pendidikan, ketika itu juga para pemerintah bangga akan pencapaian anak bangsanya Yang sebenarnya topeng untuk pendidikan nasional kita. Bangga akan prestasi, bangga akan gelar dan bangga akan juara yang di dapat dari anak bangsa  padahal masih banyak sekolah- sekolah yang perlu dan sangat membutuhkan perubahan sekolah, perubahan infrastuktur dan yang laiinya dan itu harusnya menjadi sorotan pemerintah, tidak hanya segelintir orang yang mendapatkan prestasi yang perlu di bicarakan atau di banga- banggakan.

Saat ini memang pendidikan di  Indonesia terutama di sekolah- sekolah  mereka hanya memuja kompetisi. Gaya berfikir yang kompetitif sangat erat pada system persekolah di  Indonesia. Mungkin di mulai sebagai sekedar alat merangsang motivasi belajar atau kepercayaan diri siswa untuk mampu berkompetisi di tingkat nasional sampai tingkat internasional. Kata kompetitif sudah menjadi matra bagi sekolah untuk mendapatkan lirikan dari pihak luar dan pemerintah itu sendiri. Namun watak memuja kompetisi punya tugas lain. Ia bisa menenggelamkan dan mengalihkan perhatian publik dan praktek persekolahan  atau  bisa saja menngalihkan dan membangga- banggakan bawah pendidikan kita sudah maju dan mampu bersaing di dunia. Tak heran kita melihat pendidikan kita hanya bisa dirasakan oleh segelintir orang  tertentu saja mulai dari pembinaan, diseleksi sejara ketat yang kemudian mewakili bangsa Indonesia untuk beekompetisi, pulang membawa juara dan kemudian di bangga- bangkan oleh para pemerintah atas jerih payahnya bisa memberikan mendali untuk Indonesia itu lah yang Indonesia inginkan.

Namun yang  kita lihat pada kesempatan ini adalah apa sebenarnya efek dari semakin melebarnya daya jelajah anak-anak Indonesia  di ajang lomba olimpiade? Seperti yang disinggung pada bagian awal wacana yang berkembang di linkungan mereka menjadi kian menyempit. Orang seperti menemukan lomba- lomba tersebut sebagai  semacam “  jalan keluar “ atau lebih tepatnya jendela pelarian dari menumpuknya persoalan pendidikan di Indonesia.